Selasa, 24 Agustus 2021

 Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh 

perkenalkan nama saya Muhammad Ishaq Aljawawi dari prodi Bahasa dan Sastra Arab, saya lahir diPalembang, tanggal 21 Januari 2004 nama panggilan saya Ishaq, saya adalah alumnus dari pondok pesantren Sabilul Hasanah.

Tujuan saya membuat blog ini yang pastinya untuk memberikan bacaan - bacaan yang bermanfaat seperti nasihat - nasihat atau kutipan cerita dan juga untuk keperluan dimasa kuliah saya di prodi BSA.

Kawan - kawan sekalian jangan lupa untuk mampir dan tukar pikiran di blogger saya ini, dan saya juga meminta kawan - kawan sekalian untuk saling mengingatkan  apa - apa yang sudah saya upload diblog ini karena " الانسان محل الخطاء والنسيان " manusia itu tempatnya salah dan lupa.

mungkin itu saja perkenalan saya, akhirul kalam 

wassalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh 


 Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 – meninggal di Tangerang Selatan, 19 Juli 2020 pada umur 80 tahun) adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia kerap dipanggil dengan singkatan namanya, SDD. Ia adalah putra pertama pasangan Sadyoko dan Saparian. Sapardi dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.[1] Dalam dunia kesastraan Indonesia, Sapardi kerap dipandang sebagai sastrawan angkatan 1970-an.

berikut merupakan karya puisi beliau :

1. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.


2. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.


3. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu.
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.


4. Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintai-Mu harus menjelma aku


6. Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput
Nanti dulu
biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi


7. Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kauulang lagi
menjenguk
wajah yang merasa
sia-sia, yang putih
yang pasi
itu.

Jangan sekali-
kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.

Ingat,
jangan sekali-
kali. Jangan.

Baik, Tuan.



Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul 10 Puisi Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni hingga Yang Fana Adalah Waktu, https://jateng.tribunnews.com/2020/07/19/10-puisi-sapardi-djoko-damono-hujan-bulan-juni-hingga-yang-fana-adalah-waktu?page=3.
Penulis: iam | Editor: abduh imanulhaq

 Tak ada yang lebih tabah 
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakan rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak 
dari hujan bulan Juni ini
Dihapusnya jejak - jejak kakinya
yang ragu - ragu dijalan itu

Tak ada yang lebih arif 
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu

-Sapardi Djoko Damono