Jumat, 01 Mei 2026
Selasa, 30 Agustus 2022
kekasihku........
jikalau mendung hitam sudah diatas kepala
jangan larang hujan turun kebumi
jikalau angin bertiup dengan kencangnya
jikalau senyummu selalu mekar dalam hatiku
jangan larang aku untuk selalu setia dan rindu padamu
puisi karangan : KH Zawawi Imron
Rabu, 01 Desember 2021
Resensi kitab Adhiyaul Lami’
Judul buku : الضياء اللامع بذكر مولد النبي الشافع
(Cahaya Yang Terang Benderang Dalam Kelahiran
Pemberi Syafa’at)
Penulis : Habib
Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar bin Salim
Penerbit : Percetakan
Daarul Musthafa
Terbit : Muharram
/ Maret 2001 / 1442 H
Tebal Buku : 27
halaman
Sinopsis Buku :
Buku ini merupakan karangan Habib
Umar bin Hafidz, beliau merupakan Ulama’ besar pada abad ini. Beliau lahir
dikota Tarim, Hadromaut, Yaman pada tanggal 27 Mei 1963 atau 4 Muharram 1383 H,
beliau juga merupakan Ulama’ karismatik serta keturunan Rasulullah SAW. Nama
kepanjangan beliau adalah Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin
Syekh Abu Bakar bin Salim. Kitab ini banyak digunakan oleh seluruh umat Islam
dibelahan dunia terutama dinegara Indonesia sebagai bacaan-bacaan dzikir atau
amalan sehari-hari dan juga digunakan sebagai doa untuk dipanjatkan kepada
Allah SWT agar kita mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW diakhirat kelak.
Buku ini menceritakan tentang
kehidupan Rasullulah SAW dari awal beliau lahir sampai beliau wafat, dalam buku
ini banyak cerita-cerita beliau yang sangat luar biasa serta mu’jizat-mu’jizat
yang beliau miliki, seperti Ketika Rasulullah berjalan dipadang pasir yang amat
tandus dan panas kemudian ada awan yang selalu berada diatas Rasulullah SAW
sebagai pelindung atau peneduh dari panas. Didalam buku ini juga terdapat doa-doa yang sangat dalam
maknanya dan bagi siapa yang membacanya insyaAllah diijabah atau dikabulkan
oleh Allah SWT.
Kelebihan buku :
Buku ini sangatlah bagus, baik dari
segi font ataupun covernya, dan juga terjemahannya sangat mudah dipahami bagi
setiap kalangan pembaca. Dengan buku ini para pembaca dapat selalu ingat akan
perjuangan Rasulullah SAW dalam berdakwah.
Kekurangan buku :
Buku ini tidak memiliki pedoman
bacaan translate Arab sehingga nanti kedepannya para pembaca awam tidak bisa
untuk membaca tulisan yang berbahasa Arab.
Selasa, 24 Agustus 2021
Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh
perkenalkan nama saya Muhammad Ishaq Aljawawi dari prodi Bahasa dan Sastra Arab, saya lahir diPalembang, tanggal 21 Januari 2004 nama panggilan saya Ishaq, saya adalah alumnus dari pondok pesantren Sabilul Hasanah.
Tujuan saya membuat blog ini yang pastinya untuk memberikan bacaan - bacaan yang bermanfaat seperti nasihat - nasihat atau kutipan cerita dan juga untuk keperluan dimasa kuliah saya di prodi BSA.
Kawan - kawan sekalian jangan lupa untuk mampir dan tukar pikiran di blogger saya ini, dan saya juga meminta kawan - kawan sekalian untuk saling mengingatkan apa - apa yang sudah saya upload diblog ini karena " الانسان محل الخطاء والنسيان " manusia itu tempatnya salah dan lupa.
mungkin itu saja perkenalan saya, akhirul kalam
wassalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh
1. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
2. Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
3. Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.
4. Sajak Kecil Tentang Cinta
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintai-Mu harus menjelma aku
6. Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput
Nanti dulu
biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi
7. Menjenguk Wajah di Kolam
Jangan kauulang lagi
menjenguk
wajah yang merasa
sia-sia, yang putih
yang pasi
itu.
Jangan sekali-
kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.
Ingat,
jangan sekali-
kali. Jangan.
Baik, Tuan.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul 10 Puisi Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni hingga Yang Fana Adalah Waktu, https://jateng.tribunnews.com/2020/07/19/10-puisi-sapardi-djoko-damono-hujan-bulan-juni-hingga-yang-fana-adalah-waktu?page=3.
Penulis: iam | Editor: abduh imanulhaq
dari hujan bulan Juni




